Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili hafizhahullah memberikan nasehat yang yang indah di sela-sela keterangan beliau terhadap kitab Tsalatsatul Ushul karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Sebuah nasehat berharga yang patut untuk kita camkan bersama…beliau berkata:
… Hal ini (yaitu amal, pent) adalah buah dari ilmu. Karena sesungguhnya ilmu tidaklah mengandung kebaikan jika tidak disertai dengan amalan. Ilmu adalah sarana, sedangkan amalan adalah tujuan. Sementara tujuan dicari secara dzatnya. Adapun sarana, ia dicari karena sebab yang lainnya.Memang, ilmu bisa digolongkan sebagai ibadah; sebab ia menjadi syarat terwujudnya ibadah-ibadah yang lain. Meskipun demikian, sesungguhnya ilmu tanpa amalan tidaklah bermanfaat. Bahkan, ia menjadi hujjah/bukti yang akan menjatuhkan pemiliknya. Adapun ilmu yang akan menjadi pembelanya kelak -di akhirat- adalah ilmu yang diiringi dengan amalan.
Dalam tataran ini, manusia berada dalam keadaan yang bertingkat-tingkat:
Diantara mereka ada orang yang mengamalkan ilmunya. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan taufik -dari Allah-; mereka itu adalah para rasul beserta pengikut-pengikutnya, demikian pula kaum beriman yang meniti jalan mereka.
Diantara mereka ada orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal. Mereka itu adalah para ulama’ suu’/jelek yang mendalami ilmu tetapi tidak tergerak untuk mengamalkannya. Pada diri mereka ini terdapat kemiripan dengan sifat Yahudi; mereka memiliki ilmu namun tidak beramal dengannya
Golongan yang ketiga adalah orang yang beramal tetapi tidak dilandasi dengan ilmu.
Ini adalah perbuatan orang-orang awam serta orang-orang yang tidak mengerti (jahil) yang beribadah kepada Allah namun tidak berdasarkan ilmu. Pada diri mereka ini terdapat kemiripan dengan Nasrani.
Oleh sebab itu diriwayatkan dari Sufyan, bahwasanya beliau berkata,
Barangsiapa diantara para ulama kita yang terdapat penyimpangan padanya maka sifatnya menyerupai sifat Yahudi. Dan barangsiapa diantara ahli ibadah kita yang terdapat penyimpangan padanya maka sifatnya menyerupai sifat Nasrani.Lantas, golongan keempat adalah orang yang tidak berilmu dan juga tidak beramal. Mereka ini lebih mirip dengan binatang sebenarnya. Mereka sama sekali tidak punya cita-cita; baik dalam urusan ilmu maupun amalan. Cita-cita mereka semata-mata melampiaskan hawa nafsu dan menghabiskan waktu dalam hal-hal yang tidak bermanfaat.
Dia tidak berilmu dan tidak pula beramal. Mereka ini adalah golongan yang terburuk. Berbeda dengan beberapa golongan yang awal; sebab pada mereka masih terdapat kebaikan meskipun tidak sempurna dari kedua sisi kecuali pada golongan orang yang berilmu dan beramal sekaligus.
Yang dimaksud beramal dengan ilmu adalah seorang yang
berilmu hendaknya melaksanakan ilmunya dan beramal dengannya. Bahkan,
para ulama sering mengingatkan bahwa salah satu sebab yang dapat memperkokoh ilmu adalah dengan beramal….
Artikel: PemudaMuslim

0 komentar:
Posting Komentar