Sahabatku, iman adalah barang berharga yang sangat bernilai. Dengan
adanya iman di dalam hati, semangat kita dalam beramal saleh akan
meningkat dan kita akan semakin enggan berbuat maksiat. Iman yang kuat
seperti pohon yang akarnya menghujam ke dasar bumi, tak tergoyahkan dan
tak terkalahkan oleh berbagai bentuk godaan.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa iman akan menjadi lemah seperti
pakaian menjadi kotor. Yang dimaksud iman menjadi lemah adalah perbuatan
maksiat dan kemungkaran, menyebabkan cahaya iman akan melemah.
Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits, apabila seseorang melakukan
maksiat maka timbullah di hatinya titik hitam. Jika ia bertobat, maka
titik hitam itu akan hilang. Jika tidak, maka titik hitam itu akan terus
melekat. Kemudian jika ia melakukan perbuatan dosa lagi maka titik
hitam itu akan bertambah, demikian seterusnya hingga hatinya menjadi
hitam dan berkarat. Kemudian keadaan hati berubah sama sekali sehingga
perkataan-perkataan yang benar tidak diterima dan tidak berkesan
baginya.
Sayyid Quthb dalam tafsir Fizhilal mengatakan bahwa iman dan amal
saleh tidak bisa dipisahkan. Orang-orang yang beriman adalah
orang-orang yang beramal saleh. Apabila tidak beramal, maka keimanan itu
tidak ada atau sangat lemah pada dirinya.
Sayyid Quthb mendasari
pemikirannya dari surat al-Ashr yang berbunyi,
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali bagi mereka
yang beriman dan beramal saleh, dan saling nasehat-menasehati dalam
kebenaran dan kesabaran.”
Keimanan akan tumbuh dalam hati orang-orang yang taat dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan, orang-orang yang taat akan memiliki iman yang kokoh. Keduanya saling memberi dan menguatkan. Orang-orang yang berbuat maksiat sangat jauh dari ketaatan karena iman mereka sangat kurang atau tidak ada sama sekali.
Iman itu kadang naik kadang turun. Sifat fluktuatif inilah, hendaknya
kita mewaspadai turunnya iman. Jika tidak segera mewaspadainya, niscaya
kita akan terjerumus pada kemaksiatan. Dan, salah satu cara untuk
memperbaharui iman adalah dengan membaca kalimat thayyibah (La ilahaillallah) sebanyak-banyaknya.
Mengapa harus membaca kalimat thayyibah, bukan kalimat atau dzikir yang
lainnya? Syaikh Zakariyya al-Kandhalawi dalam kitabnya yang masyhur – Fadhail Amal
– mengatakan, “Karena kalimat thayyibah merupakan sumber agama dan
pokok keimanan. Semakin banyak menyebut kalimat ini, maka akan semakin
kuat dan lebih kukuh lagi atas keimanan itu. Ada tidaknya keimanan
seseorang tergantung kepada kalimat ini, bahkan wujud dunia ini pun
tergantung pada wujud kalimat ini.”
Sementara itu, Syaikh Abu Laits as-Samarqandi dalam kitabnya, Tanbihul Ghafilin,
mengatakan, “Seharusnya setiap orang mengucapkan La ilahaillallah
sebanyak-banyaknya dan berdoa kepada Allah agar imannya tetap terjaga
dan menjauhkan diri dari segala dosa, karena sebagian orang yang dicabut
keimanannya adalah disebabkan dosa-dosanya, sehingga ia meninggal dunia
dalam keadaan kafir. Lebih tragis lagi, ada sebagian orang yang di
dunia tercatat sebagai orang Islam, tetapi di akhirat dia digolongkan
bersama orang-orang kafir.
Hal ini disebabkan banyaknya dosa dan
perbuatan haram yang dilakukannya secara sembunyi. Misalnya, banyak
orang yang diamanahkan harta oleh orang lain, tetapi ia menganggap harta
itu sebagai miliknya sendiri. Ia berkompromi dengan hatinya untuk
menggunakan dahulu harta itu dan suatu saat nanti akan dikembalikan atau
minta dihalalkan kepada pemiliknya. Tetapi belum sempat hal itu
dilakukan, ajal sudah datang menjemput.
Banyak pula orang yang terlanjur
menceraikan istrinya, tetapi sewaktu-waktu mereka masih melakukan
hubungan intim. Mereka belum sempat bertobat, ajal sudah datang
menjemput. Dalam keadaan demikian, iman pun dicabut dari mereka.”
Inilah salah satu keistimewaan kalimat La ilahaillallah. La ilahaillallah bermakna tiada ilah selain Allah. Ilah yang dimaksud adalah yang disembah, dipuja, ditakuti, dan dicintai. Ketika kita membaca kalimat ini, maka resapkanlah ke dalam hati bahwa Allah adalah satu-satunya Ilah yang disembah, dipuja, ditakuti, dan dicintai.
Ketika
kita sudah meresapkannya, berarti kita telah mengumandangkan kemerdekaan
sebagai seorang hamba; lepas dari perbudakan terhadap setan dan hawa
nafsu. Kita beribadah hanya kepada Allah semata. Setelah itu yang akan
kita rasakan adalah bersinarnya iman dalam hati, bertambahnya ketakwaan
kepada Allah, ketenteraman hati, dan kekhusyuan jiwa dan pikiran.

0 komentar:
Posting Komentar