Jumat, Mei 02, 2014
0
Menyadari bahwa untuk beberapa saat aku akan berlaku agak aneh, yaitu merasa bahwa aku hanya sendiri dalam hidup ini, dan bahwa dunia ini kosong dari apapun yang bisa menggembirakanku.

Mencoba mengingat betapa cerianya aku dulu sebelum dia datang dan membuatku jatuh cinta kepadanya.

Bukankah aku dulu mempu untuk hidup mandiri dan bebas untuk bergembira dimana pun dan dengan siapa pun?

Apakah dia demikian hebatnya, sampai-sampai aku berlaku menistakan nikmat Tuhan yang amat sangat luas ini?

Jangan sampai aku ditanya: nikmat Tuhan mana lagikah yang kau nistakan?
Jangan sampai aku tidak mendapatkan yang tidak baik bagiku sekarang, dan membatalkan kepantasanku untuk mendapatkan belahan jiwa yang sesuai bagiku jika aku berbaik sikap?

Apakah sesungguhnya aku sedang menistakan rencana Tuhan bagi jiwa yang lebih baik, karena aku tak kunjung membijak kehilangan yang tidak baik?
Nikmat Tuhan mana lagi yang aku nistakan?

Sudahlah…Lupakan dia…
Dulu aku berbahagia tidak mengenalnya, dan aku tetap berbahagia setelah pernah mengenalnya.
Memperlakukan dia sebagai yang pernah kucintai, seperti keikhlasanku menerima semua kehilanganku selama ini.

Mempantaskan diriku bagi belahan jiwa yang lebih baik.
Sesungguhnya, keindahan yang kudapat, sesuai dengan keindahan yang aku upayakan.



Artikel You Say Too

0 komentar:

Posting Komentar